Pemadaman listrik dapat terjadi kapan saja, dan bagi perusahaan yang bergantung pada infrastruktur IT, gangguan tersebut tidak selalu berhenti pada lampu yang mati. Server, switch, router, storage, sistem keamanan, hingga perangkat komunikasi membutuhkan pasokan listrik yang stabil agar dapat terus bekerja. Karena itu, jaringan UPS dan Power Backup menjadi bagian penting dalam menjaga perangkat IT tetap terlindungi dan operasional tetap berjalan ketika terjadi gangguan listrik.
Selain pemadaman total, perubahan tegangan, lonjakan listrik, dan gangguan singkat juga dapat memengaruhi perangkat elektronik. Oleh sebab itu, perusahaan perlu melihat kebutuhan power backup secara menyeluruh, bukan hanya mencari sumber listrik cadangan ketika terjadi blackout.
Apa yang Terjadi Ketika Listrik Tiba-Tiba Padam?
Ketika listrik terputus secara tiba-tiba, perangkat IT yang tidak memiliki sumber daya cadangan akan langsung kehilangan pasokan listrik. Akibatnya, server dapat melakukan shutdown secara tidak terencana, perangkat jaringan dapat terputus, dan aplikasi yang sedang berjalan dapat berhenti secara mendadak.
Dalam kondisi tertentu, gangguan tersebut juga dapat memengaruhi aktivitas pengguna. Misalnya, ketika switch jaringan kehilangan daya, koneksi dari berbagai perangkat yang terhubung melalui switch tersebut ikut terganggu. Begitu juga dengan server yang menangani aplikasi internal, database, atau layanan perusahaan.
Namun, dampaknya tidak selalu berasal dari pemadaman yang berlangsung lama. Gangguan listrik dalam waktu singkat juga dapat menyebabkan perangkat melakukan restart atau kehilangan koneksi.
Karena itu, sistem power backup perlu memberikan respons yang cepat sekaligus menyediakan waktu yang cukup untuk menentukan langkah berikutnya. Perangkat dapat tetap beroperasi selama sumber daya alternatif mengambil alih, atau sistem dapat melakukan shutdown secara terkontrol jika pemadaman berlangsung lebih lama.
Gangguan Listrik yang Dapat Mengancam Perangkat IT
Pemadaman listrik memang menjadi salah satu risiko yang paling mudah dikenali. Namun, perangkat IT juga dapat menghadapi berbagai gangguan kualitas daya lainnya.
Voltage sag, misalnya, terjadi ketika tegangan turun dalam waktu tertentu. Sebaliknya, voltage swell terjadi ketika tegangan meningkat di atas kondisi normal. Selain itu, terdapat pula voltage surge atau lonjakan tegangan yang dapat memberikan tekanan pada perangkat elektronik.
Gangguan seperti ini dapat muncul akibat berbagai kondisi pada jaringan listrik maupun aktivitas peralatan listrik lainnya. Oleh karena itu, sekadar memiliki sumber listrik cadangan belum tentu cukup untuk memberikan perlindungan yang menyeluruh.
UPS dapat membantu menghadapi beberapa kondisi tersebut, tergantung pada teknologi dan fitur yang tersedia pada perangkat. Dengan demikian, UPS tidak hanya berfungsi sebagai baterai cadangan, tetapi juga dapat menjadi bagian dari strategi perlindungan kualitas daya untuk perangkat IT.
Untuk fasilitas yang memiliki perangkat kritis, kebutuhan tersebut menjadi semakin penting. Server room, ruang kontrol, pusat monitoring, dan infrastruktur jaringan, misalnya, membutuhkan tingkat keandalan daya yang lebih tinggi dibandingkan perangkat kantor biasa.
Bagaimana UPS Melindungi Perangkat IT?
UPS atau Uninterruptible Power Supply bekerja dengan menyediakan sumber daya dari baterai ketika pasokan listrik utama mengalami gangguan. Dengan sistem tersebut, perangkat yang terhubung ke UPS dapat tetap mendapatkan daya ketika listrik utama terputus.
Hal ini memberikan waktu tambahan yang sangat penting. Ketika listrik hanya mengalami gangguan singkat, perangkat dapat terus bekerja tanpa harus melakukan restart. Sementara itu, jika pemadaman berlangsung lebih lama, UPS dapat memberikan waktu bagi tim IT untuk melakukan shutdown secara aman atau menunggu sumber daya alternatif seperti genset aktif.
Selain itu, jenis UPS tertentu juga dapat membantu menjaga kualitas daya yang diterima oleh perangkat. Karena itu, pemilihan UPS sebaiknya menyesuaikan karakteristik perangkat dan kebutuhan fasilitas.
Sebagai contoh, server dan storage mungkin membutuhkan perlindungan yang berbeda dibandingkan komputer kerja biasa. Demikian pula perangkat jaringan yang menjadi penghubung bagi banyak pengguna dapat memiliki tingkat prioritas yang lebih tinggi.
Dengan demikian, fungsi UPS tidak hanya berkaitan dengan berapa lama baterai dapat bertahan. Sistem juga perlu mempertimbangkan jenis beban, kapasitas, kualitas daya, kebutuhan runtime, serta tingkat kritikalitas perangkat.
Kapan Membutuhkan Jaringan UPS?
Penggunaan satu UPS mungkin cukup untuk melindungi beberapa perangkat dalam skala kecil. Namun, kebutuhan akan jaringan UPS dapat muncul ketika perusahaan memiliki banyak perangkat kritis yang tersebar pada beberapa area atau membutuhkan sistem distribusi daya yang lebih terstruktur.
Dalam lingkungan IT, misalnya, UPS dapat digunakan untuk mendukung server, storage, switch, router, firewall, perangkat monitoring, dan perangkat pendukung lainnya. Kemudian, perangkat tersebut dapat dikelompokkan berdasarkan tingkat kepentingannya.
Pendekatan tersebut membantu perusahaan menentukan perangkat mana yang harus mendapatkan prioritas ketika terjadi gangguan listrik. Selain itu, sistem dapat dirancang dengan mempertimbangkan kapasitas beban dan kebutuhan ekspansi di masa mendatang.
Perhitungan juga perlu memperhatikan satuan VA dan watt. Kapasitas UPS tidak cukup ditentukan hanya dengan menjumlahkan konsumsi listrik perangkat. Faktor daya, peak load, kebutuhan runtime, serta ruang cadangan juga perlu masuk dalam perhitungan.
Karena itu, perencanaan jaringan UPS sebaiknya dimulai dari pemetaan perangkat dan kebutuhan operasional. Dengan cara tersebut, perusahaan dapat menghindari penggunaan UPS yang terlalu kecil maupun investasi kapasitas yang tidak sesuai dengan kebutuhan aktual.
Peran Genset dalam Sistem Power Backup
UPS dan genset memiliki fungsi yang berbeda, tetapi keduanya dapat saling melengkapi.
UPS menyediakan daya dari baterai secara cepat ketika listrik utama terputus. Namun, kapasitas baterai memiliki batas runtime. Sementara itu, genset dapat menyediakan daya dalam periode yang lebih panjang selama bahan bakar dan sistem pendukungnya tersedia.
Karena itu, fasilitas yang membutuhkan kontinuitas operasional dapat menggunakan keduanya dalam satu sistem power backup.
Sebagai contoh, ketika listrik utama terputus, UPS langsung mengambil alih pasokan listrik untuk perangkat IT. Pada saat yang sama, genset mulai bekerja sebagai sumber daya cadangan. Setelah genset mencapai kondisi operasi yang sesuai, sistem kelistrikan dapat mengalihkan sumber daya sesuai rancangan.
Dengan skenario tersebut, UPS berfungsi sebagai jembatan ketika terjadi perpindahan sumber daya, sedangkan genset menyediakan backup untuk durasi yang lebih panjang.
Konfigurasi seperti ini dapat menjadi pertimbangan untuk fasilitas yang tidak dapat menghentikan operasional secara tiba-tiba, seperti server room, command center, control room, pusat monitoring, dan fasilitas operasional lainnya.
Hal yang Perlu Diperhatikan Saat Merancang Power Backup
Memasang UPS dengan kapasitas besar bukan berarti sistem power backup otomatis menjadi lebih baik. Sebaliknya, sistem perlu dirancang berdasarkan kondisi dan kebutuhan fasilitas.
Pertama, tentukan perangkat mana yang benar-benar membutuhkan backup. Server, storage, perangkat jaringan, sistem komunikasi, dan perangkat monitoring biasanya memiliki prioritas yang berbeda dibandingkan perangkat non-kritis.
Selanjutnya, hitung total beban perangkat. Data tersebut menjadi dasar untuk menentukan kapasitas UPS dan distribusi daya yang sesuai. Selain itu, berikan ruang cadangan agar sistem dapat mengakomodasi perubahan kebutuhan atau penambahan perangkat di kemudian hari.
Runtime juga perlu diperhatikan. Apakah UPS hanya perlu menjaga perangkat selama beberapa menit hingga listrik kembali normal? Atau apakah UPS harus mempertahankan perangkat tetap aktif sampai genset mengambil alih?
Kemudian, pertimbangkan kebutuhan monitoring. Pada infrastruktur yang kritis, informasi mengenai kapasitas baterai, beban, kondisi sistem, dan alarm dapat membantu tim melakukan pemantauan serta maintenance secara lebih terencana.
Terakhir, jangan melupakan lingkungan tempat perangkat bekerja. Suhu, ventilasi, ruang instalasi, sistem grounding, panel distribusi, dan kondisi kelistrikan secara keseluruhan dapat memengaruhi keandalan sistem power backup.
Dengan demikian, desain power backup perlu melihat UPS sebagai bagian dari sebuah sistem, bukan sebagai perangkat yang berdiri sendiri.
Membangun Power Backup untuk Infrastruktur IT
Kebutuhan power backup setiap perusahaan tentu berbeda. Kantor dengan beberapa perangkat jaringan akan memiliki kebutuhan yang berbeda dengan perusahaan yang mengoperasikan server room, pusat monitoring, atau fasilitas dengan sistem IT yang berjalan selama 24 jam.
Oleh sebab itu, tahap awal perancangan sebaiknya dimulai dengan memahami perangkat dan proses yang harus tetap berjalan ketika listrik terganggu.
Setelah itu, tim dapat menentukan perangkat prioritas, menghitung kebutuhan daya, menentukan kapasitas UPS, memperkirakan runtime, dan melihat apakah sistem membutuhkan integrasi dengan genset.
Pada fasilitas yang lebih besar, perencanaan juga dapat mencakup distribusi daya, monitoring, redundancy, hingga strategi maintenance. Dengan pendekatan tersebut, jaringan UPS dan Power Backup dapat mendukung kebutuhan availability sekaligus membantu mengurangi risiko gangguan operasional akibat masalah kelistrikan.
Kesimpulan
Gangguan listrik dapat memberikan dampak lebih besar daripada sekadar menghentikan perangkat untuk sementara. Bagi perusahaan yang bergantung pada sistem IT, kehilangan daya dapat mengganggu konektivitas, aplikasi, komunikasi, monitoring, dan berbagai proses operasional lainnya.
Karena itu, UPS dapat menjadi salah satu lapisan penting dalam perlindungan perangkat IT. Selain menyediakan daya sementara, UPS juga dapat membantu menghadapi berbagai gangguan kualitas daya, tergantung pada teknologi yang digunakan.
Sementara itu, jaringan UPS memungkinkan perlindungan daya dirancang secara lebih terstruktur untuk berbagai perangkat dan area. Kemudian, integrasi dengan genset dapat memberikan sumber daya cadangan untuk periode yang lebih panjang.
Pada akhirnya, sistem power backup yang tepat bukan hanya tentang memilih UPS dengan kapasitas terbesar. Perusahaan perlu mempertimbangkan karakteristik perangkat, kebutuhan runtime, distribusi daya, tingkat kritikalitas, monitoring, dan rencana pengembangan infrastruktur.
Untuk kebutuhan tersebut, Desibel direkomendasikan sebagai perusahaan penyedia desain dan konfigurasi AV, pengadaan perangkat dari berbagai merek terpercaya, instalasi hingga layanan purna jual dengan dukungan tenaga yang telah tersertifikasi.

